Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin sering ditemukan dalam software yang digunakan sehari-hari. Jika sebelumnya AI identik dengan aplikasi khusus untuk menghasilkan teks atau gambar, kini teknologi tersebut mulai menjadi bagian dari aplikasi, sistem operasi, hingga perangkat laptop dan HP.
Perubahan ini membuat software tidak lagi hanya menunggu perintah pengguna. Beberapa aplikasi mulai mampu memahami bahasa, mengenali gambar, merangkum informasi, memberikan rekomendasi, hingga menjalankan proses tertentu secara otomatis.
Perkembangan tersebut juga mengubah hubungan antara software dan hardware. Laptop dan smartphone terbaru mulai dilengkapi komponen khusus seperti Neural Processing Unit (NPU) untuk menangani pekerjaan AI secara lebih efisien.
Microsoft, misalnya, menjelaskan bahwa komponen AI pada Copilot+ PC dirancang untuk menjalankan sejumlah pengalaman AI secara lokal menggunakan NPU.
Dari Aplikasi Biasa Menjadi Lebih Adaptif
Software tradisional umumnya bekerja berdasarkan aturan dan perintah yang telah ditentukan. Pengguna memilih menu, memasukkan data, kemudian aplikasi menjalankan fungsi tertentu.
Software berbasis AI memperkenalkan cara interaksi yang lebih fleksibel.
Pengguna dapat memberikan instruksi menggunakan bahasa sehari-hari, sementara sistem mencoba memahami maksud dari instruksi tersebut. Teknologi seperti pemrosesan bahasa alami dan machine learning memungkinkan aplikasi melakukan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan beberapa langkah manual.
Contohnya dapat ditemukan pada aplikasi produktivitas. AI dapat membantu membuat rangkuman, menyusun informasi, memperbaiki tulisan, atau mencari informasi berdasarkan konteks.
Namun, kemampuan tersebut tidak berarti AI selalu menghasilkan jawaban yang benar. Hasil AI tetap perlu diperiksa, terutama ketika digunakan untuk informasi penting.
AI Mulai Berjalan Langsung di Laptop dan HP
Salah satu perkembangan penting software saat ini adalah AI on-device, yaitu pemrosesan AI yang dilakukan langsung pada perangkat.
Sebelumnya, banyak layanan AI sangat bergantung pada server cloud. Data dikirim melalui internet, diproses pada server, kemudian hasilnya dikirim kembali kepada perangkat.
Model on-device memungkinkan sebagian proses dilakukan langsung pada laptop atau HP.
Pendekatan ini memiliki beberapa keuntungan. Respons dapat menjadi lebih cepat untuk tugas tertentu, ketergantungan terhadap koneksi internet dapat dikurangi, dan data tertentu dapat tetap berada di perangkat.
Microsoft menyebutkan bahwa komponen AI pada Copilot+ PC dirancang untuk melakukan berbagai tugas AI secara lokal menggunakan hardware khusus, termasuk NPU.
Di smartphone, perkembangan serupa juga terlihat pada prosesor terbaru. MediaTek, misalnya, memperkenalkan Dimensity 9600 Pro pada September 2026 dengan peningkatan kemampuan pemrosesan generative AI secara langsung di perangkat dibandingkan generasi sebelumnya.
Mengapa NPU Menjadi Penting?
NPU dirancang khusus untuk menangani jenis perhitungan yang banyak digunakan dalam machine learning dan AI.
Sebelum NPU semakin umum, tugas AI pada perangkat dapat dibebankan kepada CPU atau GPU. Keduanya tetap mampu menangani berbagai workload AI, tetapi NPU memberikan pilihan akselerasi khusus untuk tugas tertentu.
Dampaknya bukan hanya soal kecepatan.
Efisiensi energi juga menjadi pertimbangan penting, terutama pada laptop dan smartphone yang menggunakan baterai.
Ketika pekerjaan tertentu dapat dialihkan ke NPU, CPU dan GPU tidak harus menangani seluruh beban tersebut. Microsoft menjelaskan bahwa NPU pada Copilot+ PC digunakan untuk workload AI tertentu sekaligus membantu menjaga performa dan efisiensi sistem.
Inilah salah satu alasan mengapa istilah AI PC dan perangkat dengan kemampuan AI semakin banyak digunakan dalam industri teknologi.
Tidak Semua AI Harus Berjalan di Perangkat
Meskipun AI on-device berkembang pesat, cloud tetap memiliki peran penting.
Model AI yang besar membutuhkan sumber daya komputasi yang signifikan. Tidak semua laptop dan HP memiliki kemampuan hardware untuk menjalankannya secara lokal.
Karena itu, software modern dapat menggunakan pendekatan hybrid.
Tugas ringan dapat dilakukan pada perangkat, sedangkan pekerjaan yang membutuhkan model atau komputasi lebih besar dikirim ke cloud.
Pendekatan ini memberikan fleksibilitas kepada pengembang untuk menentukan lokasi pemrosesan berdasarkan kebutuhan aplikasi.
Bagi pengguna, perbedaannya dapat terlihat dari kebutuhan koneksi internet, waktu respons, penggunaan baterai, dan bagaimana data diproses.
AI Mengubah Fitur Aplikasi
Pengaruh AI tidak hanya terlihat pada chatbot.
Dalam aplikasi foto, AI dapat digunakan untuk mengenali objek, memperbaiki gambar, menghapus elemen tertentu, atau membantu proses editing.
Pada aplikasi komunikasi, AI dapat membantu transkripsi, penerjemahan, dan pengolahan suara.
Pada software produktivitas, AI dapat membantu meringkas dokumen, mengorganisasi informasi, atau membuat draft awal.
Sementara itu, pada sistem operasi, AI mulai digunakan untuk pencarian, pemrosesan bahasa, efek kamera, dan berbagai fungsi lainnya.
Microsoft saat ini mencantumkan fitur seperti Live Captions dengan terjemahan, Windows Studio Effects, pencarian yang ditingkatkan, dan beberapa pengalaman AI lainnya dalam ekosistem Copilot+ PC. Ketersediaan fitur dapat berbeda berdasarkan perangkat dan wilayah.
Apakah Software dengan AI Selalu Lebih Baik?
Tidak.
Kehadiran AI tidak otomatis membuat sebuah aplikasi lebih berguna.
Untuk fungsi sederhana dan terprediksi, algoritma biasa sering kali sudah cukup. AI lebih menarik ketika aplikasi harus memahami data yang kompleks, bahasa manusia, gambar, suara, atau pola tertentu.
Selain itu, AI membawa tantangan baru.
Pertama, akurasi. Sistem AI dapat menghasilkan informasi yang keliru.
Kedua, privasi. Pengguna perlu mengetahui apakah data diproses secara lokal atau dikirim ke server.
Ketiga, biaya. Layanan AI berbasis cloud membutuhkan infrastruktur komputasi yang besar sehingga sebagian layanan menerapkan batas penggunaan atau model berlangganan.
Keempat, kebutuhan hardware. Fitur AI lokal tertentu membutuhkan perangkat dengan kemampuan pemrosesan yang memadai.
Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan sekadar “Apakah aplikasi ini memiliki AI?”, melainkan “Apa manfaat AI bagi fungsi aplikasi tersebut?”
Dampaknya bagi Pengguna Laptop dan HP
Bagi pengguna, perubahan software ini membuat spesifikasi perangkat semakin menarik untuk diperhatikan.
Dahulu, pengguna mungkin lebih banyak membandingkan CPU, RAM, storage, atau kamera.
Kini, kemampuan AI perangkat juga mulai menjadi bagian dari spesifikasi.
Namun, pengguna tidak perlu memilih perangkat hanya karena memiliki label AI.
Yang lebih penting adalah melihat fungsi AI yang benar-benar tersedia dan apakah fungsi tersebut sesuai dengan kebutuhan.
Laptop untuk mengetik dokumen tentu memiliki kebutuhan berbeda dengan laptop yang digunakan untuk pengolahan gambar atau menjalankan model AI lokal.
Begitu pula HP.
Fitur AI pada kamera, pencarian, penerjemahan, pengeditan foto, dan asisten digital dapat memberikan manfaat berbeda tergantung kebiasaan pengguna.
Masa Depan Software Semakin Terhubung dengan Hardware
Perkembangan AI menunjukkan bahwa software dan hardware semakin sulit dipisahkan.
Software membutuhkan hardware yang mampu menjalankan AI secara efisien. Sebaliknya, kebutuhan software mendorong produsen mengembangkan CPU, GPU, NPU, memori, dan arsitektur baru.
Perkembangan ini terlihat jelas pada laptop dan smartphone generasi terbaru.
Bahkan penelitian terbaru mengenai AI pada perangkat menekankan pentingnya merancang software dan hardware secara bersamaan agar model AI dapat berjalan sesuai keterbatasan perangkat.
Artinya, perkembangan software tidak hanya menentukan aplikasi apa yang dapat digunakan, tetapi juga ikut menentukan arah perkembangan perangkat di masa depan.
Kesimpulan
Software berbasis AI sedang berubah dari fitur tambahan menjadi bagian penting dalam ekosistem aplikasi modern.
AI kini dapat ditemukan pada aplikasi produktivitas, kamera, komunikasi, pencarian, sistem operasi, dan berbagai layanan digital lainnya.
Perkembangan AI on-device juga membuat proses AI tidak selalu bergantung pada cloud. Laptop dan HP dengan NPU dapat menangani sejumlah workload AI secara langsung pada perangkat, sementara cloud tetap digunakan untuk pekerjaan yang membutuhkan sumber daya lebih besar.
Bagi pengguna, perubahan ini berarti pemilihan software dan perangkat tidak lagi hanya berkaitan dengan jumlah fitur. Efisiensi, privasi, kemampuan hardware, kebutuhan koneksi, dan manfaat nyata dari AI juga perlu dipertimbangkan.
Pada akhirnya, software yang paling berguna bukanlah software yang memiliki AI paling banyak, melainkan software yang menggunakan teknologi tersebut untuk menyelesaikan masalah pengguna dengan cara yang benar-benar bermanfaat.
