
Pernahkah kamu berhenti scrolling karena melihat sebuah konten yang terasa menarik? Bisa jadi, konten tersebut tidak hanya memiliki visual yang bagus. Psikologi digital marketing juga berperan dalam cara audiens memahami pesan, membentuk persepsi, hingga mengambil tindakan.
Dalam digital marketing, pemasar perlu memahami cara audiens menerima sebuah pesan. Dengan begitu, mereka dapat membuat konten yang lebih relevan dan mampu mendorong respons audiens.
Pentingnya Psikologi Komunikasi dalam Digital Marketing
Setiap hari, audiens menerima banyak informasi dari media sosial. Akibatnya, perhatian mereka menjadi semakin terbagi. Karena itu, sebuah konten perlu menyampaikan pesan secara jelas dan menarik. Selain itu, keputusan audiens tidak hanya dipengaruhi oleh informasi. Perasaan, persepsi, kepercayaan, dan pengalaman juga dapat memengaruhi respons terhadap sebuah konten.
Oleh sebab itu, psikologi digital marketing membantu pemasar memahami cara audiens menerima dan memproses pesan. Pemahaman tersebut kemudian dapat digunakan untuk menyusun komunikasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan audiens.
Memahami Konsep S-O-R: Dari Pesan hingga Respons Audiens
Salah satu cara untuk memahami proses komunikasi tersebut adalah melalui konsep S-O-R (Stimulus, Organism, Response).
Stimulus
Stimulus merupakan pesan yang diberikan kepada audiens. Dalam digital marketing, stimulus dapat berupa video, gambar, tulisan, suara, maupun ajakan dalam sebuah konten. Sebagai contoh, sebuah video TikTok dapat menampilkan masalah yang sering dialami mahasiswa saat mengatur keuangan. Konten tersebut kemudian memperkenalkan aplikasi Buku Kas sebagai salah satu solusi.
Organism
Setelah menerima pesan, audiens akan memproses informasi tersebut melalui kondisi mental dan psikologisnya. Proses ini dapat mencakup cara audiens berpikir, merasakan, menilai, dan mempertimbangkan sebuah pesan. Dalam materi psikologi komunikasi, proses tersebut dapat dilihat melalui tiga aspek berikut.
1. Kognisi
Kognisi berkaitan dengan pemahaman audiens. Pada tahap ini, audiens mulai mengetahui dan memahami informasi yang mereka lihat. Contohnya, audiens memahami bahwa aplikasi Buku Kas dapat membantu mencatat pemasukan dan pengeluaran.
2. Afeksi
Afeksi berkaitan dengan perasaan dan sikap audiens. Setelah memahami informasi, audiens dapat merasa tertarik, suka, percaya, atau bahkan mengalami FOMO terhadap sebuah produk. Misalnya, testimoni pengguna dapat membuat audiens merasa lebih percaya terhadap sebuah aplikasi.
3. Konasi
Konasi berkaitan dengan niat untuk melakukan tindakan. Pada tahap ini, audiens mulai memiliki dorongan untuk melakukan sesuatu setelah menerima dan memproses pesan. Sebagai contoh, audiens mulai berniat mencoba atau mengunduh aplikasi Buku Kas.
Response
Selanjutnya, audiens dapat memberikan response setelah menerima dan memproses pesan. Bentuknya dapat berupa like, komentar, follow, save, share, klik, hingga checkout. Dengan demikian, S-O-R dapat membantu pemasar melihat hubungan antara pesan, proses psikologis audiens, dan respons yang muncul.
Contoh sederhananya dapat terlihat pada promosi Buku Kas. Konten dapat memperlihatkan masalah pencatatan keuangan sebagai stimulus. Kemudian, audiens memahami fitur aplikasi, merasa tertarik, dan mempertimbangkan manfaatnya sebagai bagian dari organism. Setelah itu, audiens dapat memberikan response, misalnya dengan mengunduh aplikasi.
4 Taktik Psikologi untuk Memicu Respons Audiens
Selain memahami proses psikologis audiens, pemasar juga dapat menggunakan beberapa pendekatan dalam menyusun pesan.
1. Social Proof
Social proof menunjukkan bahwa orang lain sudah menggunakan, menyukai, atau mempercayai sebuah produk.Contohnya berupa jumlah pengguna, rating, ulasan, testimoni, atau konten dari pengguna. Cara ini dapat membantu mengurangi keraguan audiens terhadap produk.
2. Authority
Authority memanfaatkan kredibilitas seseorang atau sebuah sumber untuk meningkatkan kepercayaan audiens. Misalnya, sebuah produk menampilkan pendapat ahli, sertifikasi, penghargaan, atau pengalaman profesional yang relevan.
3. Scarcity dan Urgency
Scarcity menunjukkan keterbatasan jumlah atau kesempatan. Sementara itu, urgency mendorong audiens untuk segera mengambil tindakan. Contohnya adalah penggunaan pesan seperti “stok terbatas”, “promo berakhir hari ini”, atau “daftar sekarang”.
Namun, pemasar sebaiknya menggunakan pendekatan tersebut secara jujur. Informasi yang menyesatkan justru dapat mengurangi kepercayaan audiens.
4. Reciprocity
Reciprocity berkaitan dengan kecenderungan seseorang untuk memberikan respons setelah menerima sesuatu yang bermanfaat. Dalam digital marketing, pemasar dapat memberikan e-book, tips gratis, template, atau informasi yang berguna. Setelah memperoleh manfaat tersebut, audiens mungkin menjadi lebih terbuka terhadap produk atau layanan yang ditawarkan.
Psikologi Warna dan Kata dalam Menyampaikan Pesan
Selain isi pesan, pemilihan elemen visual dan kata juga dapat memengaruhi cara audiens menangkap sebuah konten.
Psikologi Warna
Warna dapat membantu membangun kesan tertentu dalam sebuah konten. Karena itu, pemasar perlu memilih warna sesuai dengan konteks, karakter brand, dan target audiens.
Sebagai contoh, warna tertentu dapat memberikan kesan berani, profesional, segar, ceria, atau elegan. Namun, makna warna tidak selalu sama dalam setiap situasi. Budaya, konteks, dan penggunaan visual juga dapat memengaruhi persepsi audiens.
Psikologi Kata
Pemilihan kata juga memiliki peran penting dalam komunikasi pemasaran. Kata seperti “gratis”, “terbatas”, “baru”, dan “sekarang” dapat memberikan kesan tertentu serta mendorong audiens untuk memperhatikan pesan. Selain itu, penggunaan bahasa yang dekat dengan audiens dapat membuat pesan terasa lebih personal.
Sebagai contoh:
Kalimat biasa:
“Aplikasi untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran.”
Kalimat yang lebih menarik:
“Biar uang nggak cuma numpang lewat! Catat pemasukan dan pengeluaranmu dengan mudah.”
Kalimat kedua terasa lebih dekat karena menggunakan bahasa yang lebih santai dan relevan dengan keseharian audiens. Penggunaan kata seperti “kamu”, “mudah”, dan “nggak cuma numpang lewat” juga membuat pesan terasa lebih personal dan menarik perhatian.
Kesimpulan
Pada akhirnya, digital marketing tidak hanya berkaitan dengan membuat konten dan menjual produk. Pemasar juga perlu memahami manusia yang menerima pesan tersebut. Melalui psikologi digital marketing, pemasar dapat memahami bagaimana audiens menerima informasi, membentuk persepsi, merasakan sesuatu, lalu memberikan respons.
Konsep S-O-R dapat membantu pemasar melihat proses tersebut. Selain itu, pemahaman tentang kognisi, afeksi, dan konasi dapat membantu menyusun pesan yang lebih sesuai dengan kondisi audiens. Dengan memahami psikologi audiens, pemasar dapat membuat komunikasi yang lebih relevan. Tujuannya bukan memanipulasi audiens, tetapi memahami mereka agar pesan yang disampaikan menjadi lebih efektif dan bermakna.
