Mengapa Aplikasi Sekarang Terasa Lambat Padahal Hardware Semakin Canggih?


Pernahkah Anda merasa ada yang aneh dengan perkembangan teknologi kita belakangan ini?

Coba ingat kembali zaman dulu. Kita mampu menjalankan aplikasi pemutar musik (seperti Winamp), mengetik dokumen, dan chatting sekaligus di komputer yang hanya memiliki RAM 512MB atau 1GB. Semuanya terasa snappy, cepat, dan instan.

Sebaliknya, bagaimana kondisi sekarang? Membuka aplikasi “To-Do List” sederhana saja membutuhkan waktu loading beberapa detik. Bahkan, membuka browser dengan 10 tab bisa membuat laptop RAM 8GB mulai “batuk-batuk”. Padahal, secara logika, prosesor hari ini ribuan kali lebih cepat daripada prosesor 15 tahun lalu.

Lantas, ke mana perginya semua kecepatan itu? Mengapa spesifikasi minimum untuk menjalankan software harian terus merangkak naik secara tidak masuk akal?

Jawabannya mungkin mengejutkan: Kecerdasan Buatan (AI) dan budaya pengembangan software yang berubah drastis. Kita sedang memasuki era di mana efisiensi bukan lagi prioritas utama. Mari kita bedah fenomena ini, dan bersiaplah, karena realitanya sedikit menjengkelkan.

Jebakan “Coding Jalur Cepat” dengan AI

Dulu, seorang programmer wajib memikirkan setiap baris kode yang mereka tulis. Mereka harus memastikan kode tersebut hemat memori karena sumber daya komputer sangat terbatas. Kala itu, setiap byte sangat berharga.

Namun, hari ini skenarionya berbeda. Kehadiran asisten coding AI seperti GitHub Copilot atau ChatGPT mengubah segalanya. AI memang luar biasa membantu karena ia bisa menuliskan kerangka aplikasi dalam hitungan detik. Sayangnya, ada harga mahal yang harus kita bayar: kode yang tidak efisien.

AI cenderung menghasilkan kode yang “generik”. Ia akan mengambil solusi yang paling umum di internet, yang sering kali bukan solusi paling ringkas. Akibatnya, developer—terutama junior atau mereka yang mengejar deadline—cenderung main “copy-paste” solusi AI tanpa melakukan pembersihan ulang (refactoring).

Hasil akhirnya adalah tumpukan kode sampah yang menggunung. Kita berada di situasi ironis di mana kita bertanya-tanya, apakah developer benar-benar memprioritaskan optimalisasi aplikasi, atau sekadar “yang penting jalan dulu”?

Wabah “Overengineering”: Membunuh Nyamuk dengan Meriam

Masalah kedua yang berkaitan erat dengan naiknya standar software adalah Overengineering.

Apa itu Overengineering? Bayangkan Anda hanya butuh pisau dapur untuk memotong buah, tetapi Anda malah membeli mesin pemotong industri seberat 1 ton yang butuh daya listrik satu pabrik. Fungsinya sama-sama memotong buah, tapi sumber daya yang dibutuhkan jauh berbeda.

Dalam dunia software, hal ini terjadi ketika developer menggunakan framework raksasa atau library berat hanya untuk membuat fitur sederhana.

  • Ingin membuat aplikasi catatan kecil? Developer menggunakan framework berbasis web yang membawa serta satu mesin browser utuh di dalamnya (seperti Electron).
  • Ingin menampilkan teks di layar? Mereka mengimpor library grafis 3D.

Anggapan “Ah, komputer pengguna kan makin canggih, RAM murah kok” semakin memperparah mentalitas ini. Oleh karena itu, alih-alih memeras otak untuk menghemat memori, developer membebankan kemalasan optimasi itu kepada kita. Pengguna terpaksa membeli hardware lebih mahal.

Sangat sulit mencari bukti bahwa aplikasi sekarang benar-benar melakukan optimalisasi dari sisi penggunaan sumber daya. Justru, aplikasinya semakin gemuk tanpa penambahan fitur yang signifikan.

Mitos “Hardware Akan Menyelamatkan Kita”

Ada sebuah hukum di dunia komputer bernama Wirth’s Law (Hukum Wirth), yang berbunyi: “Software melambat lebih cepat daripada hardware menjadi lebih cepat.”

Ini adalah tamparan keras bagi industri teknologi. Kita sering terbuai dengan hype prosesor baru atau SSD super cepat. Akan tetapi, sadarkah Anda bahwa software yang tidak optimal “memakan” kecepatan hardware tersebut?

Contoh paling nyata ada di industri game PC. Belakangan ini, banyak game rilis dengan performa buruk. Apa solusi developernya? Mereka menyarankan: “Gunakan DLSS” atau “Aktifkan Frame Generation”. Mereka mengandalkan AI di kartu grafis untuk menambal kode game yang berantakan, alih-alih memperbaiki kode game itu sendiri.

Hal ini menciptakan standar baru yang berbahaya. Jika dulu developer bangga bisa membuat game bagus di spek rendah, sekarang narasinya berubah. Mereka seolah berkata: “Kalau PC kamu nge-lag, itu salahmu karena belum upgrade, bukan salah kami.”

Jika tren ini berlanjut, harapan agar aplikasi sekarang benar-benar melakukan optimalisasi hanyalah dongeng masa lalu.

Dampak Langsung ke Dompet Kita

Kenaikan standar software akibat AI dan Overengineering ini bukan sekadar masalah teknis bagi orang IT. Fenomena ini berdampak langsung pada dompet Anda.

  1. Siklus Ganti Gadget Makin Cepat: Laptop yang baru Anda beli 3 tahun lalu tiba-tiba terasa lambat bukan karena rusak. Melainkan, update OS dan aplikasi menuntut spesifikasi lebih tinggi.
  2. Boros Baterai: Aplikasi yang tidak optimal memakan siklus CPU lebih banyak. Artinya, perangkat akan menyedot baterai lebih cepat. Ponsel panas dan baterai boros sering kali bukan karena kualitas baterai yang buruk, tapi karena aplikasinya “rakus”.
  3. Limbah Elektronik: Semakin cepat kita membuang gadget “lambat”, semakin banyak sampah elektronik yang menumpuk di bumi.

Apakah Masih Ada Harapan?

Tidak semua berita buruk. Untungnya, di tengah badai aplikasi berat ini, muncul gerakan perlawanan.

Banyak komunitas open-source dan developer idealis mulai kembali ke akar. Mereka menolak Overengineering dan fokus membuat aplikasi yang super ringan, cepat, serta menghormati privasi pengguna.

Kita melihat kebangkitan bahasa pemrograman seperti Rust atau Zig yang fokus pada performa dan keamanan memori. Selain itu, kita juga melihat banyak orang beralih ke Linux karena lelah dengan bloatware di OS komersial. Ini adalah bukti bahwa pengguna sebenarnya merindukan efisiensi.

Meskipun demikian, agar perubahan besar terjadi, pola pikir developer arus utama harus berubah. Mereka harus berhenti mengandalkan AI secara buta dan mulai kembali menulis kode dengan hati-hati. Kita butuh jaminan bahwa developer benar-benar melakukan optimalisasi, bukan sekadar membungkus aplikasi kosong dengan teknologi canggih.

Kesimpulan

Kenaikan standar software yang terpicu oleh kemudahan AI dan budaya “asal jadi” adalah tantangan nyata di era digital ini. Kemudahan bagi pembuat aplikasi ternyata menjadi beban bagi pengguna aplikasi.

Sebagai konsumen, kita harus lebih kritis. Jangan mudah tergiur dengan aplikasi yang flashy tapi berat. Dukunglah pengembang yang peduli pada performa. Kemudian, bagi para developer yang membaca ini: Kembalikan seni efisiensi dalam coding. Jangan biarkan AI membuat kita malas berpikir.

Teknologi seharusnya memudahkan hidup kita, bukan memaksa kita untuk terus-menerus membeli perangkat baru hanya untuk membuka email.

Bagaimana pengalaman Anda? Apakah Anda merasa aplikasi di HP atau Laptop makin hari makin berat padahal fungsinya begitu-begitu saja? Atau Anda punya rekomendasi aplikasi ringan pengganti aplikasi populer yang berat?

Yuk, bagikan keluh kesah dan tips Anda di kolom komentar! Mari kita diskusikan solusi untuk menghadapi era software “gajah” ini.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top
WhatsApp Tanya & Beli Program?