Software yang kita gunakan sehari-hari, dari sistem operasi hingga aplikasi smartphone, memiliki aturan penggunaan yang berbeda-beda. Secara teknis, aturan ini kita sebut model lisensi. Lisensi menentukan bagaimana pengguna dapat memperoleh, memasang, menggunakan, memodifikasi, dan mendistribusikan perangkat lunak. Oleh karena itu, memahami model-model ini penting untuk etika penggunaan dan keamanan digital Anda.

1. Perangkat Lunak Berbayar (Proprietary Software)
Model ini adalah yang paling tradisional. Pengguna harus membayar biaya (sekali bayar atau langganan) untuk mendapatkan izin menggunakan software. Pengembang atau perusahaan memegang penuh kendali atas kode sumber (source code).
Jenis lisensi proprietary utama meliputi:
- Lisensi Perpetual: Pengguna membayar satu kali. Dengan demikian, mereka mendapat izin untuk menggunakan versi software tersebut selamanya, meskipun pembaruan besar mungkin memerlukan biaya tambahan.
- Lisensi Berlangganan (Subscription): Pengguna membayar biaya berulang (bulanan atau tahunan). Sebagai gantinya, mereka dapat menggunakan software dan menerima pembaruan secara berkelanjutan (contoh: Adobe Creative Cloud). Selanjutnya, model ini populer karena menjamin pendapatan stabil bagi pengembang.
Perlu dicatat, Perjanjian Lisensi Pengguna Akhir (EULA) mengikat pengguna dan melarang reverse engineering atau distribusi ulang.
2. Freeware dan Shareware
Ini adalah dua model yang menawarkan perangkat lunak secara gratis. Namun, keduanya berbeda dalam batasan penggunaannya:
- Freeware: Perangkat lunak ini tersedia tanpa biaya. Meskipun gratis, kode sumbernya tetap tertutup (Anda tidak dapat memodifikasinya). Contohnya termasuk aplikasi komunikasi tertentu (Skype, Zoom) atau utilitas kecil. Biasanya, pengembang mendapatkan keuntungan melalui iklan dalam aplikasi atau penjualan fitur premium.
- Shareware: Anda dapat mendistribusikan software ini gratis untuk periode uji coba terbatas (misalnya 30 hari). Setelah itu, pengguna harus membeli lisensi untuk melanjutkan penggunaan fitur penuh.
3. Gerakan Perangkat Lunak Sumber Terbuka (Open Source Software / OSS)
OSS adalah model yang secara fundamental berbeda. Selain itu, lisensi open source (seperti GPL atau MIT) mengizinkan pengguna untuk:
- Melihat dan mengakses kode sumber.
- Menggunakan software untuk tujuan apa pun.
- Memodifikasi dan meningkatkan kode.
- Mendistribusikan salinan software yang sudah dimodifikasi atau aslinya.
Keuntungan open source meliputi transparansi, keamanan yang ditingkatkan (karena banyak mata meninjau kode), dan kolaborasi global. Contoh paling terkenal termasuk Sistem Operasi Linux dan browser Mozilla Firefox.
4. Software as a Service (SaaS)
Model SaaS telah mengubah cara kita mengakses perangkat lunak. Dalam hal ini, penyedia layanan (cloud) meng-host dan mengelola aplikasi sepenuhnya. Pengguna mengakses software melalui web browser tanpa perlu instalasi lokal.
Pengguna tidak membeli lisensi. Sebaliknya, mereka menyewa layanan akses. Model ini sangat efisien, cepat diskalakan, dan menghilangkan kebutuhan akan hardware server lokal. Contohnya adalah Google Workspace atau layanan manajemen basis data berbasis cloud.
Pada akhirnya, memilih model lisensi yang tepat berdampak pada biaya operasional, kustomisasi, dan keamanan sistem Anda. Tren saat ini menunjukkan pergeseran kuat menuju model langganan dan open source.
Editor: SJ
